BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dharmayatra
terdiri dari dua kata, yaitu : dhamma dan yatra. Dharmma (Pali) atau Dharma
(Sanskerta) artinya kesunyataan, benar, kebenaran, hukum, ajaran, suci, ide,
segala sesuatu, segala keadaan dan sebagainya. Sedangkan yatra (Sanskerta-Pali)
artinya ditempat mana. Jadi kata dharmayatra atau Dhammayatra arti harfiahnya
adalah di tempat dharma (dhamma). Dengan demikian Dharmayatra atau dhammayatra
yang dimaksud adalah tempat yang berhubungan dengan dhamma, yang perlu
dikunjungi oleh umat Buddha. Karena mengunjungi tempat dhamma inilah maka
akhirnya dhamma (dharma) yatra, secara umum berarti mengunjungi tempat-tempat
suci yang berhubungan langsung dengan berbagai peristiwa penting dalam
kehidupan Buddha Gotama. Dalam Bahasa Indonesia kita bisa menyebutnya WISATA
DHARMA.
1. Tujuan
dan Manfaat Dharmayatra
Manfaat
yang didapat sebagai hasil karma baik karena berdarmayatra adalah besar sekali.
Karena manfaat berdarmayatra ini akan membantu dan menentukan kelahiran kita pada
kehidupan yang akan datang. Hal ini dapat kita ketahui dan kutipan dibawah ini.
“Ananda,
ada empat tempat yang layak di ziarahi oleh umat yang penuh keyakinan dan
menginspirasikan kebangkitan spritual dalam diri mereka. Tempat-tempat tersebut
adalah Lumbini, Bodhgaya, Taman Rusa Isipatana dan Kusinara.” “Ananda, bagi
mereka yang berkeyakinan kuat melakukan ziarah ke tempat-tempat itu, maka
setelah mereka meninggal dunia, mereka akan terlahir kembali di alam surga.” (Mahaparinibbana Sutta).
Buddha
juga menjelaskan kepada Ananda bahwa jika pada peziarah ini meninggal saat
berziarah ke tempat-tempat tersebut dengan hati yang penuh bakti dan keyakinan,
maka mereka akan terlahir di alam bahagia.
Keempat
tempat tersebut dapat membangkitkan semangat kerohanian. Jika seornag umat
Buddha yang penuh dengan keyakinan dan bakti kepada Buddha mengunjungi tempat
cusi, is akan merasa sangat bahagia. Namun Buddha sendiri tidak mewajibkan kita
untuk mengunjungi tempat-tempat suci. Tujuan utama dari perjalan ke tempat-tempat
suci adalah untuk menumbuhkan keyakinan kita terhadap ajaran Buddha.
Ada
banyak makna yang dapat kita petik dan kita renungkan dari perjalanan ke
keempat tempat suci ini. Di Lumbini, tempat kelahiran Bakal Buddha, kita dapat
merenungkan bahwa kehadiran seorang Buddha di dunia ini sangatlah berharga.
Kita harus mensyukuri bahwa saat ini kita terlahir sebagai manusia dan mengenal
ajaran Buddha. Tidak semua makhluk di dunia ini seberuntung kita. Oleh sebab
itu kita hendaknya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Kita harus giat
memperlajari Dharma dan mempraktikannya agar hidup kita menjadi lebih bahagia
lagi.
Di
Bodhgaya, tempat Petapa Gotama mencapai Pencerahan, kita bisa merenungkan bahwa
Bodhisatta mampu mencapai Pencerahan dengan penuh perjuangan. Sebenarnya
menjadi Buddha bukanlah hanya bisa dicapai oleh Petapa Gotama. Semua makhluk
mempunyai kesempatan untuk menjadi Buddha, termasuk kita semua. Dengan
merenungkan ini kita hendaknya lebih semangat dalam melakukan kebajikan agar
dapat merealisasi Kebuddhaan seperti Buddha Gotama.
Taman
Rusa Isipatana adalah tempat Buddha pertama kali membabarkan Dharma. Jika kita
berada di tempat ini, renungkan bahwa Dharma telah dibabarkan dengan sempurna.
Buddha mengajarkan bahwa hidup kita diliputi penderitaan. Buddha juga
mengajarkan sebab dari penderitaan dan jalan untuk mengakhiri penderitaan
tersebut. Oleh kerana itu, jalanilah ajaran Buddha dengan baik. Dengan demikian
kita dapat mengurangi dan mengakhiri penderitaan.
Di
Kusinara, tempat Buddha merealisasi Parinibbana (wafat), kita dapat merenungkan
bahwa segala sesuatu yang terbentuk pasti akan hancur. Sebelum wafat, Buddha
berkata, “Vayadhamma sankhara, appamadena sampadetha,” yang berarti segala
sesuatu yang terbentuk pasti akan hancur, berjuanglah dengan penuh kesadaran.
Inilah pesan terakhir Buddha kepada kita semua. Semua yang terbentuk akan
hancur, oleh sebab itu kita tidak boleh terlalu melekat, pada segala hal. Yang
terpenting dalam hidup ini adalah berjuang untuk selalu berpikir, berucap, dan
berbuat secara bajik dan bijak.
2. Tempat-tempat
Dhammayatra
Menjelang Parinibbana, Buddha
menguraikan khotbah Mahaparinibbana Sutta. Di dalam khotbah ini, Buddha
menjelaskan tentang tempat-tempat yang menjadi tujuan Dharmayatra dan manfaat
melakukan kegiatan Dharmayatra tersebut. Tempat-tempat Dharmayatra yang
disebutkan dalam Mahaparinibbana Sutta oleh sang Buddha kepada Bhikkhu Ananda
adalah tempat yang sakral bagi umat Buddha karena keempat tempat ini adalah
tempat-tempat yang berhubungan langsung dengan empat peristiwa bersejarah yang
terjadi dalam kehidupan Buddha Gotama. Keempat tempat tersebut adalah :
a. Taman
Lumbini sekarang dikenal dengan sebutan Rummindei (Nepal).
Sekitar 2500 tahun silam, telah
terjadi suatu peristiwa maha besar yang menggetarkan jagat raya, yaitu lahirnya
seorang Bakal Buddha (Bodhisatta). Peristiwa itu terjadi saat bulan purnama di
bulan Waisak pada tahun 623 SM. Bakal Buddha adalah putra Raja Suddhodana dari
suku Sakya.
Lumbini saat ini dilestarikan
sebagai salah satu tempat ziarah umat Buddha. Banyak umat Buddha yang
mengadakan perjalanan dan berziarah di tempat ini sebagai penghormatan kepada
Buddha.
Di Taman Lumbini ini terdapat
sebuah pilar setinggi 22 kaki yang didirikan oleh Raja Asoka (duku dinamai
Pilar Rummindei). Pilar ini dibangun untuk memperingati tempat kelahiran
seorang manusia besar. Tak jauh dari situs tempat kelahiran Bodhisatta,
terdapat sebuah vihara kecil yang bernama Vihara Mayadevi. Vihara ini dibangun
sebagai penghormatan kepada Ibunda Bodhisatta yaitu Ratu Mahamaya. Taman
Lumbini adalah saksi dari kelahiran seorang Bakal Buddha.
b. Bodhgaya
adalah tempat Petapa Gotama mencapai Pencerahan atau Bodhi.
Bodhgaya berada di pinggir Sungai
Neranjara yang sekarang telah kering. Dulu, tempat ini adalah sebuah hutan yang
dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutaan Hutan Gaya, namun sejak Petapa
Gotama mencapai Pencerahan di tempat tersebut, maka Hutan Gaya akhirnya populer
dengan nama Bodhgaya atau Buddhagaya.
Saat ini di Bodhgaya terdapat
sebuah vihara bernama Vihara Mahabodhi, yang menjulang setinggi 52 meter.
Vihara ini merupakan wihara terbesar di India. Di sisi belakang bangunan dan
barat bangunan wihara terdapat pohon bodhi yang diyakini merupakan turunan dari
pohon yang menaungi Petapa Gotama bermeditasi dan mencapai Bodhi menjadi
Buddha. Di dekat pohon tersebut terdapat papan batu pasir berwarna kemerahan
yang dipandang sebagai tempat duduk Petapa Gotama saat bermeditasi mencapai
Kebuddhaan.
Selain Vihara Mahabodhi, terdapat
pula Vihara Sujata di Bodhgaya. Vihara Sujata tampak sederhana. Di vihara ini,
biasanya para peziarah membaca paritta dan merenungkan kembali kisah yang telah
terjadi di tempat itu lebih dari 2.500 tahun. yaitu Sujata mempersembahkan nasi
susu kepada Petapa Gotama sebagai makanan terakhirnya sebelum mencapai
Pencerahan.
c. Taman
Rusa Isipatana
Ada dua peristiwa penting di Taman
Rusa Isipatana. Yang pertama adalah dibabarkannya ajaran Buddha untuk pertama
kalinya kepada lima petapa, yaitu Dhammacakkappavatthana Sutta, yang berisi
tentang empat Kebenaran Mulia, termasuk di dalamnya Jalan Mulia Berfaktor
Delapan. Peristiwa penting kedua adalah terbentuknya Sangha Bhikkhu untuk
pertama kalinya. Usai mendengarkan pembabaran Dharma dari Buddha, kelima petapa
merasa sangat bahagia, kemudian memohon kepada Buddha untuk ditahbiskan menjadi
Bhikkhu. Sejak saat itu lengkaplah Tiga Permata: Buddha, Dharma, dan Sangha.
Taman Rusa Isipatana sekarang
dikenal dengan nama kota Sarnath. Dikota ini terdapat Stupa Dhamekh, yang
dulunya bernama Stupa Dhmmacakka. Stupa ini dibangun oleh Raja Asoka, Selain
itu, terdapat vihara yang bernama Mulagandhakuti. Sarnath juga dikenal dengan
Pilar Asoka yang terbuat dari batu-pasir. Pilar ini bermahkotakan empat patung
singa besar yang merupakan lambang dari Republik India. Bentuk roda seperti
yang terdapat pada mahkota pilar ini juga menghiasi tiga warna bendera Negara
India. Pada pilar tersebut terdapat pahatan dari titah raja yang berbunyi,
“Tidak ada seorang pun yang boleh menyebabkan terpecah-belahnya kubu para
Bhikkhu.” Kalimat ini mengandung peringatan terhadap para Bhikkhu dan Bhiksuni
untuk menjaga keutuhan Sangha dan setia terhadap vinaya (peraturan disiplin
Bhikkhu dan Bhiksuni).
d. Kusinara
sekarang dikenal dengan nama Kushinagar.
Kushinagar adalah tempat ziarah
keempat untuk seluruh umat Buddha. Di tempat ini, dengan kasih sayangnya,
Buddha mempersilakan Subhada untuk bertemu dengan-Nya. Subhada kemudian menjadi
siswa terakhir yang ditahbiskan Buddha sebelum Buddha merealisasi Parinibbana.
Di Kusinara inilah, pada bulan purnama
Waisak tahun 543 SM, Buddha wafat. Setelah wafat, Buddha tidak lagi terikat
pada tubuh fisiknya. Saat itulah, sembari berbaring di antara dua pohon sala
kembar, Buddha mencapai Nibbana Tanpa Sisa atau Parinibbana.
Di Kusinara dapat dijumpai sebuah cetiya
yang sekarang tinggal tumpukan batu merah saja. Orang-orang menyebut cetiya ini
dengan nama Cetiya Makutabhandana atau sekarang dikenal sebagai Stupa Rambhar.
Di cetiya inilah jenazah Buddha dikremasi tujuh hari setelah Beliau wafat.
Di
luar India terdapat juga tempat-tempat suci yang layak untuk kita ziarahi. Ada
banyak makna Dharma yang dapat kita pelajari dari candi-candi Buddha. Meskipun
candi-candi tersebut bukanlah tempat yang berhubungan langsung dengan kehidupan
Buddha, namun di sana terdapat banyak simbol yang mengandung ajaran Buddha.
Sebagai
mahasiswa Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Agama Buddha Maha Prajna, kami melakukan
dharmayatra ke salah satu Candi Buddhis yang terdapat di Jawa Tengah yaitu
Candi Plaosan. Kegiatan ini merupakan salah satu tugas kelompok mata kuliah
Kebudayaan Buddhis.
B. TUJUAN KEGIATAN
Kegiatan
dharmayatra yang kami lakukan bertujuan untuk :
1. Memenuhi
salah satu tugas kelompok mata kuliah Kebudayaan Buddhis.
2. Mempelajari
lebih dalam tentang Candi Plaosan sebagai salah satu candi buddhis.
3. Meningkatkan
keyakinan (sadha) terhadap Buddha Dhamma.
C. WAKTU PELAKSANAAN
Kegiatan
ini kami lakukan sebanyak 2 kali, yaitu :
1. Kegiatan
I :
Hari/tanggal : Sabtu, 16 Juni 2012
Jam : 09.00 s.d 14.00 WIB
2. Kegiatan
II :
Hari/tangga : Kamis, 19 Juli 2012
Jam :
09.00 s.d 14.00 WIB
D. PESERTA
Peserta
dalam kegiatan dharmayata ini adalah mahasiswa Pasca Sarjana Sekolah Tinggi
Agama Buddha Maha Prajna kelompok Kabupaten Semarang yang terdiri dari :
1. Jimo,
S.Ag.
2. Jiyem,
S.Ag.
3. Maryati,
S.Ag.
4. Supartini,
S.Ag.
5. Priyatiningsih,
S.Ag.
6. Sutrisno,
S.Ag.
BAB
II
PROFIL
SEJARAH CANDI PLAOSAN
A.
LETAK
DAN LOKASI
Secara
administrasi, komplek Candi Plaosan terletak di Dukuh Plaosan Desa Bugisan
Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten Propinsi Jawa Tengah. Sedangkan secara
geografis terletak pada 7’44’32’12 Lintang Selatan dan 110’30’11 Bujur Timur
dengan ketinggian kurang lebih 163,195 meter di atas permukaan laut.
Komplek
Candi Plaosan dapat dicapai dengan menyusuri jalan raya Prambanan-Manisrenggo,
yang ada di sebelah timur pagar kompleks Candi Prambanan, kea rah utara kurang
lebih 1,5 km.
B.
SEJARAH
CANDI PLAOSAN
Candi Plaosan yang merupakan candi
Buddha ini oleh para ahli diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Rakai
Pikatan dari Kerajaan Mataram Hindu, yaitu pada awal abad ke-9 M. Salah satu
pakar yang mendukung pendapat itu adalah De Casparis yang berpegang pada isi
Prasasti Cri Kahulunan (842 M). Dalam prasasti tersebut dinyatakan bahwa Candi
Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan, dengan dukungan suaminya. Menurut
De Casparis, Sri Kahulunan adalah gelar Pramodhawardani, putri Raja
Samarattungga dari Wangsa Syailendra. Sang Putri, yang memeluk agama
Buddha, menikah dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya, yang memeluk agama
Hindu.
Pendapat lain mengenai pembangunan
Candi Plaosan ialah bahwa candi tersebut dibangun sebelum masa pemerintahan
Rakai Pikatan. Menurut Anggraeni, yang dimaksud dengan Sri Kahulunan adalah ibu
Rakai Garung yang memerintah Mataram sebelum Rakai Pikatan. Masa pemerintahan
Rakai Pikatan terlalu singkat untuk dapat membangun candi sebesar Candi
Plaosan. Rakai Pikatan membangun candi perwara setelah masa pembangunan candi
utamanya.
Pada bulan Oktober 2003, di kompleks
dekat Candi Perwara di kompleks Candi Plaosan Kidul ditemukan sebuah prasasti
yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 M. Prasasti yang terbuat dari
lempengan emas berukuran 18,5 X 2,2 cm. tersebut berisi tulisan dalam bahasa
Sansekerta yang ditulis menggunakan huruf Jawa Kuno. Isi prasasti masih belum
diketahui, namun menurut Tjahjono Prasodjo, epigraf yang ditugasi membacanya,
prasasti tersebut menguatkan dugaan bahwa Candi Plaosan dibangun pada masa
pemerintahan Rakai Pikatan.
1. Plaosan Lor
Candi Plaosan Lor merupakan sebuah
kompleks percandian yang luas. Di depan (barat) kompleks Plaosan Lor terdapat
dua pasang arca Dwarapala yang saling berhadapan, sepasang terletak di pintu
masuk utara dan sepasang di pintu masuk selatan. Masing-masing arca setinggi
manusia ini berada dalam posisi duduk di atas kaki kanannya yang terlipat
dengan kaki kiri ditekuk di depan tubuh. Tangan kanannya memegang gada,
sedangkan tangan kiri tertumpang di atas lutut kiri.
Di pelataran utara terdapat teras
batu berbentuk persegi yang dikelilingi oleh deretan umpak batu. Diduga teras
batu tersebut merupakan tempat meletakkan sesajian. Konon di atas teras
tersebut tadinya terdapat bangunan dari kayu, sedangkan di atas masing-masing
umpak tadinya terdapat sebuah arca Dhyani Buddha.
Teras yang serupa namun berukuran
lebih kecil terdapat juga di selatan kompleks Candi Plaosan Lor. Di pelataran
utara kompleks Candi Plaosan juga terdapat 6 buah stupa besar.
Di pusat kompleks Candi Plaosan Lor
terdapat dua bangunan bertingkat dua yang merupakan candi utama. Kedua bangunan
tersebut menghadap ke barat dan masing-masing dikelilingi oleh pagar batu.
Dinding batu yang memagari
masing-masing candi utama dikelilingi oleh candi perwara yang semula berjumlah
174, terdiri atas 58 candi kecil berdenah dasar persegi dan 116 bangunan
berbentuk stupa. Tujuh candi berbaris di masing-masing sisi utara dan selatan
setiap candi utama, 19 candi berbaris sebelah timur atau belakang kedua candi
utama, sedangkan 17 candi lagi berbaris di depan kedua candi utama. Hampir
semua candi perwara tersebut saat ini dalam keadaan hancur.
Di setiap sudut barisan candi
perwara masih terdapat sebuah candi kecil lagi yang dikelilingi oleh dua
barisan umpak yang juga diselingi dengan sebuah candi kecil lagi di setiap
sudutnya.
Di sisi barat pagar batu yang
mengelilingi masing-masing bangunan utama terdapat sebuah gerbang berupa gapura
paduraksa, dengan atap yang dihiasi deretan mahkota kecil. Puncak atap gapura
berbentuk persegi dengan mahkota kecil di atasnya.
Masing-masing bangunan candi utama
berdiri di atas kaki setinggi sekitar 60 cm tanpa selasar yang mengelilingi
tubuhnya. Tangga menuju pintu dilengkapi dengan pipi tangga yang memiliki
hiasan kepala naga di pangkalnya. Bingkai pintu dihiasi pahatan bermotif bunga
dan sulur-suluran. Di atas ambang pintu terdapat hiasan kepala Kala tanpa
rahang bawah.
Sepanjang dinding luar tubuh kedua
candi utama dihiasi oleh relief yang menggambarkan laki-laki dan perempuan yang
sedang berdiri dalam ukuran yang mendekati ukuran manusia sesungguhnya. Relief
pada dinding candi yang di selatan menggambarkan laki-laki, sedangkan pada
candi yang di utara menggambarkan perempuan.
Bagian dalam kedua bangunan utama
terbagi menjadi enam ruangan, tiga ruangan terletak di bawah, sedangkan tiga
ruangan lainnya terletak di tingkat dua. Lantai papan yang membatasi kedua
tingkat saat ini sudah tidak ada lagi, namun pada dinding masih terlihat alur
bekas tempat memasang lantai.
Di ruang tengah terdapat 3 arca
Buddha duduk berderet di atas padadmasana menghadap pintu, namun arca Buddha
yang berada di tengah sudah raib. Pada dinding di kiri dan kanan ruangan
terdapat relung yang tampaknya merupakan tempat meletakkan penerangan. Relung
tersebut diapit oleh relief Kuwera dan Hariti.
Di kiri dan kanan, dekat pintu
utama, terdapat pintu penghubung ke ruangan samping. Susunan di kedua ruangan
bawah lainnya, baik di bangunan utara maupun di bangunan selatan, mirip dengan
susunan di ruang tengah. Di sisi timur terdapat 3 arca Buddha duduk berderet di
atas padadmasana menghadap ke barat. Arca Buddha yang berada di tengah juga
sudah raib.
2. Plaosan
Kidul
Candi Plaosan Kidul terletak di
selatan Candi Plaosan Lor, terpisah oleh jalan raya. Bila di kompleks Palosan
Lor kedua candi utamanya masih berdiri dengan megah, di kompleks Candi Plaosan
Kidul candi utamanya sudah tinggal reruntuhan. Yang masih berdiri hanyalah
beberapa candi perwara.
C.
POSISI STRATEGIS CANDI PLAOSAN
Candi
Plaosan adalah salah satu candi yang memilik posisi strategis, baik dilihat
dari aspek pelestarian, keterkaitan historis maupun prospek pengembangan
bisnisnya adalah Kompleks candi Plaosan.
Candi
ini memiliki beberapa keunggulan diantaranya merupakan candi Budha yang cukup
luas dan relatif dekat dengan kompleks candi Prambanan (10 menit), serta
memiliki kondisi yang cukup bagus (pasca pugar). Selain itu candi Plaosan
merupakan bangunan candi Budha sebagai sebuah simbol ibadah. Kompleks
percandian ini terdiri dari dua bagian yaitu kompleks candi Plaosan Lor dan
kompleks candi Plaosan Kidul, atraktifitas dari bangunan candi ini akan dapat
menjadi daya tank utama sekaligus generator bagi pengembangan kawasan di
sekitarnya
D.
POTENSI & NILAI KEUNIKAN CANDI PLAOSAN
Kawasan
candi Plaosan mempunyai Unique Selling Point (USP) sebagai kompleks candi Budha
yang bernilai tinggi yang berada di tengah areal persawahan dan pemukiman
masyarakat, aksebilitas yang mudah serta sarana prasarana yang mendukung dan
adanya dukungan dari lembagalembaga lain secara terpadu memungldnkan untuk
dijadikan management mata rantai dengan Borobudur - Prambanan - dan Ratu Boko,
selain itu candi Plaosan memilild dua keunikan :
1. Nilai
keunikan dari arsitektur bangunan candi, khususnya dua dari candi utama Plaosan
Lor, yaitu bangunan induk di sebelah utara dan selatan, merupakan candi
bertingkat. Konstruksi bangunan jenis ini merupakan bentuk teknologi percandian
yang cukup jarang ditemui Keberadaan ornamen dan relief berupa prasasti-prasasti
dengan huruf Budha (Sidham) memancarkan nilai artistik yang mengagumkan.
2. Candi
memiliki sistem Pantheon area Budha yang lengkap sehingga dapat
mempresentasikan perkembangan Bodhisme di Jawa.
E.
KONDISI SOSIAL BUDAYA CANDI PLAOSAN
1.
Kesenian Tradisional
Kawasan candi Plaosan termasuk
bagian dari Kecamatan Prambanan yang memiliki berbagai macam kesenian
tradisional yang memiliki karakter dan jenis khas. Tingkat kegotong-royongan
yang sangat tinggi dan suasana tradisional mencerminkan kehidupan di kawasan tersebut,
oleh karena itu masyarakat masih memiliki rasa keterkaitan dan keinginan untuk
melestarikan kesenian tradisional dan kegiatan ritual Kegiatan kesenian
tradisional yang terdapat di kawasan candi Plaosan adalah sebagai berikut:
2.
Seni Musik
Jenis seni musik yang sering
dimainkan oleh penduduk di Kecamatan Prambanan ini adalah : Karawitan,
Keroncong, Laras Madya, Samroh, Kulintang, Waranggono, dan Macopat. Di Kawasan
candi Plaosan cukup dikenal musik tradisional dari bambu ( Musik Bambu Pring
Sedapur ) yang pernah ditampilkan di Jepang.
3.
Seni Tari
Sedangkan jenis tarian tradisional
yang merupakan ciri khas dan sering dimainkan oleh penduduk setempat adalah
jatilan, yaitu tarian keprajuritan yang menggambarkan perang saudara antara
Demak dan Pengging
4.
Seni Teater
Sama hanya dengan
Kecamatan-kecamatan yang lain yang ada di Kabupaten Klaten maka jenis seni
teater yang sering menjadi daya tarik adalah Ketoprak, Wayang Orang, Srundul,
Sruntul, dan juga Pedalangan Purwa.
5.
Dongeng Tradisional
Dongeng masyarakat sekitar candi
Plaosan yang masih dipertahankan antara lain cents Bandung Bondowasa, cents
rakyat terjadinya Desa Taji, terjadinya Desa Kongklangan, dan terjadinya Desa
Pandansimping
6.
Upacara Adat
Kecamatan Prambanan selain memiliki
potensi slam juga memiliki potensi budaya, hal ini terlihat dengan adanya
upacara-upacara adat yaitu :
a.
Upacara Keagamaan Kawasan sekitar candi
Plaosan masih melakukan kegiatan religius seperti pengajian, tahblan, wayangan
dsb secara rutin.
b.
Sektor - sektor usaha yang terdapat di Desa
Bugisan padakhususnya didominasi oleh sektor pertanian, hal ini terbukti dengan
luas lahan persawahan di Desa ini sebesar 57, 37 % dari luas Desa , Selain itu
juga didukung dengan mata pencaharian penduduk di desa ini dengan bertani 7
petani 26,11 % dan buruh tani 25,85 % dengan hash panen yang mencapai 584.000
ton pada bulan juni 2004. Umumnya penduduk desa selain sebagai petani mereka
juga beternak, seperti ayam kampung dan ras, itik kambing, sapi serta kerbau,
sedangkan untuk sektor industri, hanya terbatas pada industri kecil (sebanyak 6
buah) dan industri rumah tangga sejumlah 9 buah.
F.
PROFIL WISATA CANDI PLAOSAN
1. Obyek
dan Daya Tarik Wisata
Komplek
candi Plaosan Lor selain berdekatan dengan candi Plaosan Kidul secara umum
dapat dikatakan berada pada komplek situs Prambanan. Di sekitar Prambanan
terdapat banyak candi, baik, yang besar maupun yang kecil, dengan latar
belakang agama Hindhu maupun Budha. Komplek candi Plaosan Lor dan candi Plaosan
Kidul mempunyai latar belakang agama Budha, candi Plaosan Lor merupakan sebuah
kompleks percandian yang terdiri dari dua bangunan induk yang dikehlingi oleh 6
patok, 58 candi perwara dan 116 Stupa perwara serta ditambah 1 bangunan
Mendapa. Diluar pagar halaman II kompleks candi Plaosan Lor terdapat 4 arcs
Dwarapala atau arca penjaga pintu masuk candi, bangunan-bangunan yang
mengelilingi candi induk terbagi dalam 3 deret : Deret ke-1, adalah candi
perwara berjumlah 60 candi; deret ke-2, berjumlah 58 yang terdiri 54 stupa
perwara dan 4 candi perwara pada tiap sudutnya; deret ke-3 berjumlah 66 yang
terdiri dari 62 dtupa perwara dan 4 candi perwara yang terletak pada tiap
sudutnya.
Pada
candi perwara dan stupa perwara terdapat prasasti pendek yang memuat nama
tokoh.
2. Aktifitas
Wisata
Aktifitas yang dapat dilakukan di
kawasan obyek wisata candi Plaosan pada saat ini masih terbatas pada aktifitas
seperti :
a. Ethnic
Tourism
Seperti mengobserfasi ekspresi
kebudayaan dan gaya hidup masyarakat, berkunjung ke rumah penduduk setempat,
melihat kesenian tradisional setempat, upacara maupun ritual keagamaan.
b. Environmental
Tourism
Menekankan pada atraksi yang
disiapkan oleh alam, Getting Back To Nature termasuk diantaranya adalah fotografi,
tracking dan sebagainya.
c. Historical
Tourism
Yaitu aktifitas wisata yang
mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai keunikan sejarah tersendiri.
Dalam hal ini candi Plaosan termasuk didalamnya dengan mengingat potensi dan
nilai sejarah yang dimiliki oleh candi Plaosan.
d. Recreational
Tourism
Merupakan aktifitas wisata yang
benar-benar bertujuan untuk bersantai (rekreasi) seperti Sight Seeing (melihat
pemandangan) olah raga (cycling) dan lain sebagainya.
3. Fasilitas
Pengunjung
Sebagai salah satu obyek wisata
budaya dan sejarah terdapat di Kabupaten Klaten, candi Plaosan memiliki
beberapa fasilitas wisata antara lain :
a. Pintu
Gerbang
Kawaan candi Plaosan belum memiliki
pintu gerbang yang siqnifikan tetapi sebelum pengunjung memasuki kawasan candi,
mereka akan melewati pintu gerbang kawasan candi Plaosan.
b. Kantor
Pengelola
Lokasi Kantor Pengelola berada
dalam kawasan Candi Plaosan dengan bentuk bangunan yang masih semi permanen.
c. Papan
Informasi
Letak dan papan informasi ini
bersebelahan dengan loket pembayaran, papan ini memberikan gambaran tentang
pemugaran candi Plaosan.
d. Tempat
Parkir
Sampai saat ini tempat parkir yang
tersedia di kawasan candi Plaosan belum dipisahkan antara tempat parkir untuk
kendaraan roda 4 dan roda 2.
e. Tempat
sampah
Di dalam kawasan candi Plaosan
sudah tersedia tempat sampah yang berada di setiap sudut yang terletak di dalam
kawasan candi Plaosan ini Adapun untuk pembuangan akhir belum terdapat fasilitas
yang cukup representatif.
4. Aksebilitas
Aksebilitas di kawasan candi Plaosan
dapat dikatakan baik, dengan jalan yang menuju lokasi sudah diaspal dengan
lebar 4 m sehingga dapat dilewati kendaraan roda 4, selain itu jalan menuju
kawasan candi Plaosan memilild akses langsung dengan jalan arteri Jogjakarta
dan Surakarta. Sampai saat ini untuk mencapai lokasi, pengunjung bisa
menggunakan Bus pedesaan, kendaraan pribadi, ojek dan becak.
BAB
III
HUBUNGAN
ANTARA CANDI PLAOSAN
DAN
CANDI PRAMBANAN
A. HUBUNGAN ANTARA AGAMA HINDU DAN
BUDDHA
Berdasarkan
data-data prasasti di atas, baik yang berlatar belakang agama Hindhu maupun
Budha dapat diketahui bahwa keduanya dapat hidup saling berdampingan, bahkan
dalam sebuah keluarga antara suami dan istri. Dengan demikian hubungan baik
antara candi Roro Jonggrang Prambanan dengan Candi Plaosan Lor secara historis
tidak diragukan lagi. Meskipun masih perlu juga diketahui tentang perkembangan
agama Hindhu dan Budha di Jawa pada masa itu sebagai penguat hubungan antara
keduanya.
Agama
Hindhu pada awal perkembangannya tampak dari penyebutan nama tempat yang dimuat
di dalam prasasti Canggal yang dikeluarkan oleh Sanjaya, yaitu pendirian sebuah
lingga di bukit Ksitirangga yang terletak di Kunjam - kunja - deca Informasi
ini jelas menunjukkan pemujaan terhadap Dewa-dewa dalam agama Hindhu.
Selanjutnya seperti telah disebut dimuka bahwa terjadi perpindahan agama dari.
tokoh yang bernama Sangkara, karena terjadi peristiwa yang menimpa keluarganya,
sejak saat itulah mulai berkembang agama Budha Mahayana. Perkembangan ini
banyak didukung, baik dengan banyaknya prasasti yang menyebut persembahan
terhadap agama Budha maupun tinggalan arkeologi yang berupa candi yang berlatar
belakang agama Budha.
B. CANDI PLAOSAN MERUPAKAN CANDI
BUDDHA TANTRAYANA
Pada
dasarnya semua candi Budha dibentangkan pada candi Budha yang biasanya
memunculkan tiga perwujudan Budha yaitu : Diani Budha, Diani Bodhisatwa dan
Manusi Bodbisatwa walaupun kesemuanya ada 15 perwujudan Budha, adapun yang
terlengkap ada di Borobudur, namun yang dipakai adalah Diani Budbanya
(Amitaba), Diani Bodhisatwa (Awalukiswara yang melambangkan cinta kasih dan
kasih sayang), dan Manusi Bodhi Satwa (Sakyamun).
Ketiga
perwujudan tersebut merupakan satu patner dalam menjalankan tugas. Gambaran
candi Plaosan merupakan perwujudan satu Triatna yaitu Budha yang berarti melihat
kebenaran, Dharma yang berarti jalan untuk mencapai kebenaran, dan Sangha yang
berarti pasamuan suci, tempat pembelajaran guru dan murid yang diwakili para
rahib. Ketiganya merupakan kund untuk mempertemukan yang maha kekal
Lambang-lambang
patung yang terdapat di candi Plaosan bukanlah lambang Budha sebagai diri, akan
tetapi Budha sebagai lambang kekekalan - kesempurnaan. Dimana lambang tersebut
diapait oleh dua Bodhisatwa, yang merupakan lambang yang mau mencapai
kesempurnaan.
Agama
Budha Tentrayana sendiri penuh dengan simbul yang memilild makna yang panjang.
Hal ini diperlihatkan oleh arca Bodhisatwa di candi Plaosan yang melambangkan
masing-masing wujud dan sifat Budha serta jalan untuk perenungan` menuju sifat
baik Simbol-simbol tersebut bersifat mistis, adapun yang terjadi sekarang ini
adalah bukan ibadah yang diperhatikan oleh orang-orang, melainkan budayanya
yang simbol. Hal ini tentunya menyingkirkan unsur ibadah yang seharusnya menjadi
tujuan utama seseorang.
Pada
masa abad ke 7 dan ke 8 (masa berdirinya candi Plaosan) merupakan masa
pematangan konsep Tentrayana yang kemudian memunculkan konsep baru yaitu konsep
Adibudha yang berarti Budha kesempurnaan, di Indonesia sendiri hal tersebut
diwujudkan dalam Tuhan Yang Maha Esa. Tentra yang sama juga ada di Tibet, yang
berasal dari Indonesia / Jawa, yang kemudian berbaur dengan Tentris dan
kematraan lokal, hal ini juga terjadi di Indonesia dimana proses perubahan
terjadi dari Budha murni Terawada ke Mahayana dan berlanjut menjadi Tentrayana.
Untuk
memahami perlambangan di Tentrayana, seseorang harus memahami terlebih dahulu
dasar persimbolan Mahayana yang orang harus hafal dasar-dasar nilai ajaran
Budha di Terawada. Hirarki pemahaman / pencapaian ini harus dipahami dulu lebih
awal sehingga tidak ada kesalahan dalam penafsiran pada tingkat yang lebih
tinggi. Pengajaran tingkat yang tinggi ini juga disesuaikan dengan tingkat
kemampuan seorang Bhiksu, dimana hanya Bhiksu-bhiksu tertentu, dinilai dari
beberapa aspek, yang diajarkan Tentrayana melalui kelas-kelas rahasia secara
hirarkis, yang pertama ada adalah Budha Terawada (murni), dimana tidak ada
upacaraupacara ritual didalamnya, kemudian lahir Mahayana dengan upacaraupacara
besar sekaligus sebagai penyebaran pemahaman ajaran Budha dan simbol-simbolnya
pada masyarakat masa lalu.
Terkait
dengan hal tersebut, candi Borobudur yang juga merupakan candi Budha, memilild
nilai potensial sebagai tempat wisata ritual, sekaligus untuk menjaga dan
memelihara kesrakalan yang ada di sang Namun yang terjadi sekarang ini adalah
pengunjung yang ingin bersembahyang di Borobudur akan berfikir dua kali untuk
melakukannya, karena secara psikologis, mereka tidak nyaman dengan melihat
pengunjung lain dengan seenaknya duduk dan naik patung sembarangan, sehingga
mengakibatkan Borobudur semakin kotor dan lain-lain.
Dilihat
dari beberapa aspek, candi Plaosan sendiri memilild potensi besar untuk
dikembangkan dari segi bentuknya, Plaosan memilild tiga bilik yang melambangkan
Tri Ratna, yaitu Budha masa lalu. Budha sekarang dan Budha yangakan datang,
sedangkan candi Sewu yang juga merupakan candi Hindhu lebih merupakan biara (
tempat belajar Bhiksu ) dilihat dari pola mandalanya yang berbeda. Hal ini bisa
dilihat dari adanya candi Perwara sebagai tempat meditasi, sementara tanah lapang
sebagai tempat dharma bersama.
Dilihat
dari potongan pola mandala, candi Plaosan memilild potongan pola mandala yang
lengkap, dari tempat yang rendah (mikrokosmos / membumi) gradual hingga tempat
yang lebih tinggi dan paling tinggi, hal ini ditandai dengan puncak stupa
sebagai perwujudan penyatuan dengan nirwana / kesempurnaan / mikrokosmos.
Plaosan sebagai tempat suci umat Budha, tentunya memiliki pagarpagar sebagai
pengaman, adanya pant dan pagar di candi plaosan, dinilai sebagai pengaman dari
binatang buas dan liar, sehingga mereka tidak bisa berenang untuk mencapai
permukaan candi Plaosan, walaupun dalam upacara ada pola pembersihan dengan
air, namun parit yang ada di candi plaosan dinilai hanya sebagai pengaman.
Dari
segi ritual, untuk Tentrayana seperti yang dibangun di candi Plaosan, pola-pola
ritualnya menggunakan mantra. Mantra merupakan ringkasan dari ajaran Budha yang
terdiri dari Terawada, Mahayana dan Tentrayana, Terawada merupakan ajaran Budha
paling awal yang kemudian ditambahai komentar oleh Mahayana, dan diringkas
kembali oleh Tentrayana dari kitab (ajaran awal dan keterangan) menjadi hanya
beberapa kahmat saja, namun pengucapannya juga dimaknai seperti memahami
seluruh isi satu kitab. Dalam sebuah upacara pembacaan mantra diulangulang untuk
mengikis hal-hal yang buruk dan agar selalu berpikir hal-hal yang baik bila
pikiran baik maka perbuaaan dan perbuatan akan berlaku serupa. Tujuan akhir
dari itu semua adalah untuk menjaga agar pikiran manusia bisa menjadi baik.
Kata
Plaosan, mungkin berasal dari kata pe-laos-an yang kemungkinan ada kaitannya
dengan negara Laos. Beberapa patung yang terdapat di candi Plaosan memilild
arti tertentu, seperti patung Budha di tengah Dhiani Budha (Vahirocana) dan
Bodhisatwa, yang berwarna merah adalah awalukiswara, lambang kasih sayang, yang
berwarna kuning disebelah kiri adalah Vajravani merupakan lambang
kebijaksanaan. Sebagai tempat untuk duduk sembanyang, candi Plaosan tentunya
akan sangat nyaman bila ditanami oleh pepohonan yang rindang sebagai peneduh.
Dalam
hal ini vegetasi yang mungkin cocok untuk candi Plaosan adalah pohon teratai,
yang bisa ditanam di parit dan pohon Bodhi, selain untuk peneduh terdapat pula
upacara ritual penghormatan pohon Bodhi yang merupakan benih-benih dari
kesucian .
BAB
IV
PENUTUP
A. SIMPULAN
Melalui kegiatan dharmayatra ini,
kami sebagai mahasiswa Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Maha
Prajna medapatkan manfaat :
1. Terpenuhinya
salah satu tugas kelompok mata kuliah Kebudayaan Buddhis.
2. Dapat
mempelajari lebih dalam tentang Candi Plaosan sebagai salah satu candi buddhis
di Jawa Tengah.
3. Meningkatnya
keyakinan (sadha) terhadap Buddha Dhamma.
B. SARAN
Mahasiswa program Pasca Sarja adalah calon ilmuwan-ilmuwan
dalam bidang agama Buddha. Di masyarakat mereka akan menjadi tolok ukur dan
sumber informasi tentang agama Buddha. Maka perlu kiranya lebih banyak
membekali dirinya dengan ilmu-ilmu terapan yang memang sangat dibutuhkan di
masyarakat.
Mata kuliah kebudayaan buddhis merupakan mata
kuliah aplikatif. Tugas kelompok yang diberikan kepada mahasiswa untuk
melakukan dharmayatra merupakan salah satu bentuk aplikasi mata kuliah ini. Pada
pertemuan-pertemuan yang akan datang hendaknya lebih banyak dibahas
materi-meteri aplikatif dan bentuk-bentuk peninggalan kebudayaan buddhis.
candinya keren ,cocok buat kaum instragramable maupun untuk foto prewedd Rental mobil jogja
BalasHapus