Translate

Selasa, 09 Oktober 2012

CANDI PLAOSAN


BAB I
PENDAHULUAN


A.    LATAR BELAKANG
Dharmayatra terdiri dari dua kata, yaitu : dhamma dan yatra. Dharmma (Pali) atau Dharma (Sanskerta) artinya kesunyataan, benar, kebenaran, hukum, ajaran, suci, ide, segala sesuatu, segala keadaan dan sebagainya. Sedangkan yatra (Sanskerta-Pali) artinya ditempat mana. Jadi kata dharmayatra atau Dhammayatra arti harfiahnya adalah di tempat dharma (dhamma). Dengan demikian Dharmayatra atau dhammayatra yang dimaksud adalah tempat yang berhubungan dengan dhamma, yang perlu dikunjungi oleh umat Buddha. Karena mengunjungi tempat dhamma inilah maka akhirnya dhamma (dharma) yatra, secara umum berarti mengunjungi tempat-tempat suci yang berhubungan langsung dengan berbagai peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gotama. Dalam Bahasa Indonesia kita bisa menyebutnya WISATA DHARMA.

1.      Tujuan dan Manfaat Dharmayatra
Manfaat yang didapat sebagai hasil karma baik karena berdarmayatra adalah besar sekali. Karena manfaat berdarmayatra ini akan membantu dan menentukan kelahiran kita pada kehidupan yang akan datang. Hal ini dapat kita ketahui dan kutipan dibawah ini.
“Ananda, ada empat tempat yang layak di ziarahi oleh umat yang penuh keyakinan dan menginspirasikan kebangkitan spritual dalam diri mereka. Tempat-tempat tersebut adalah Lumbini, Bodhgaya, Taman Rusa Isipatana dan Kusinara.” “Ananda, bagi mereka yang berkeyakinan kuat melakukan ziarah ke tempat-tempat itu, maka setelah mereka meninggal dunia, mereka akan terlahir kembali di alam surga.” (Mahaparinibbana Sutta).
Buddha juga menjelaskan kepada Ananda bahwa jika pada peziarah ini meninggal saat berziarah ke tempat-tempat tersebut dengan hati yang penuh bakti dan keyakinan, maka mereka akan terlahir di alam bahagia.
Keempat tempat tersebut dapat membangkitkan semangat kerohanian. Jika seornag umat Buddha yang penuh dengan keyakinan dan bakti kepada Buddha mengunjungi tempat cusi, is akan merasa sangat bahagia. Namun Buddha sendiri tidak mewajibkan kita untuk mengunjungi tempat-tempat suci. Tujuan utama dari perjalan ke tempat-tempat suci adalah untuk menumbuhkan keyakinan kita terhadap ajaran Buddha.
Ada banyak makna yang dapat kita petik dan kita renungkan dari perjalanan ke keempat tempat suci ini. Di Lumbini, tempat kelahiran Bakal Buddha, kita dapat merenungkan bahwa kehadiran seorang Buddha di dunia ini sangatlah berharga. Kita harus mensyukuri bahwa saat ini kita terlahir sebagai manusia dan mengenal ajaran Buddha. Tidak semua makhluk di dunia ini seberuntung kita. Oleh sebab itu kita hendaknya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Kita harus giat memperlajari Dharma dan mempraktikannya agar hidup kita menjadi lebih bahagia lagi.
Di Bodhgaya, tempat Petapa Gotama mencapai Pencerahan, kita bisa merenungkan bahwa Bodhisatta mampu mencapai Pencerahan dengan penuh perjuangan. Sebenarnya menjadi Buddha bukanlah hanya bisa dicapai oleh Petapa Gotama. Semua makhluk mempunyai kesempatan untuk menjadi Buddha, termasuk kita semua. Dengan merenungkan ini kita hendaknya lebih semangat dalam melakukan kebajikan agar dapat merealisasi Kebuddhaan seperti Buddha Gotama.
Taman Rusa Isipatana adalah tempat Buddha pertama kali membabarkan Dharma. Jika kita berada di tempat ini, renungkan bahwa Dharma telah dibabarkan dengan sempurna. Buddha mengajarkan bahwa hidup kita diliputi penderitaan. Buddha juga mengajarkan sebab dari penderitaan dan jalan untuk mengakhiri penderitaan tersebut. Oleh kerana itu, jalanilah ajaran Buddha dengan baik. Dengan demikian kita dapat mengurangi dan mengakhiri penderitaan.
Di Kusinara, tempat Buddha merealisasi Parinibbana (wafat), kita dapat merenungkan bahwa segala sesuatu yang terbentuk pasti akan hancur. Sebelum wafat, Buddha berkata, “Vayadhamma sankhara, appamadena sampadetha,” yang berarti segala sesuatu yang terbentuk pasti akan hancur, berjuanglah dengan penuh kesadaran. Inilah pesan terakhir Buddha kepada kita semua. Semua yang terbentuk akan hancur, oleh sebab itu kita tidak boleh terlalu melekat, pada segala hal. Yang terpenting dalam hidup ini adalah berjuang untuk selalu berpikir, berucap, dan berbuat secara bajik dan bijak.

2.      Tempat-tempat Dhammayatra
Menjelang Parinibbana, Buddha menguraikan khotbah Mahaparinibbana Sutta. Di dalam khotbah ini, Buddha menjelaskan tentang tempat-tempat yang menjadi tujuan Dharmayatra dan manfaat melakukan kegiatan Dharmayatra tersebut. Tempat-tempat Dharmayatra yang disebutkan dalam Mahaparinibbana Sutta oleh sang Buddha kepada Bhikkhu Ananda adalah tempat yang sakral bagi umat Buddha karena keempat tempat ini adalah tempat-tempat yang berhubungan langsung dengan empat peristiwa bersejarah yang terjadi dalam kehidupan Buddha Gotama. Keempat tempat tersebut adalah :
a.       Taman Lumbini sekarang dikenal dengan sebutan Rummindei (Nepal).
Sekitar 2500 tahun silam, telah terjadi suatu peristiwa maha besar yang menggetarkan jagat raya, yaitu lahirnya seorang Bakal Buddha (Bodhisatta). Peristiwa itu terjadi saat bulan purnama di bulan Waisak pada tahun 623 SM. Bakal Buddha adalah putra Raja Suddhodana dari suku Sakya.
Lumbini saat ini dilestarikan sebagai salah satu tempat ziarah umat Buddha. Banyak umat Buddha yang mengadakan perjalanan dan berziarah di tempat ini sebagai penghormatan kepada Buddha.
Di Taman Lumbini ini terdapat sebuah pilar setinggi 22 kaki yang didirikan oleh Raja Asoka (duku dinamai Pilar Rummindei). Pilar ini dibangun untuk memperingati tempat kelahiran seorang manusia besar. Tak jauh dari situs tempat kelahiran Bodhisatta, terdapat sebuah vihara kecil yang bernama Vihara Mayadevi. Vihara ini dibangun sebagai penghormatan kepada Ibunda Bodhisatta yaitu Ratu Mahamaya. Taman Lumbini adalah saksi dari kelahiran seorang Bakal Buddha.

b.      Bodhgaya adalah tempat Petapa Gotama mencapai Pencerahan atau Bodhi.
Bodhgaya berada di pinggir Sungai Neranjara yang sekarang telah kering. Dulu, tempat ini adalah sebuah hutan yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutaan Hutan Gaya, namun sejak Petapa Gotama mencapai Pencerahan di tempat tersebut, maka Hutan Gaya akhirnya populer dengan nama Bodhgaya atau Buddhagaya.
Saat ini di Bodhgaya terdapat sebuah vihara bernama Vihara Mahabodhi, yang menjulang setinggi 52 meter. Vihara ini merupakan wihara terbesar di India. Di sisi belakang bangunan dan barat bangunan wihara terdapat pohon bodhi yang diyakini merupakan turunan dari pohon yang menaungi Petapa Gotama bermeditasi dan mencapai Bodhi menjadi Buddha. Di dekat pohon tersebut terdapat papan batu pasir berwarna kemerahan yang dipandang sebagai tempat duduk Petapa Gotama saat bermeditasi mencapai Kebuddhaan.
Selain Vihara Mahabodhi, terdapat pula Vihara Sujata di Bodhgaya. Vihara Sujata tampak sederhana. Di vihara ini, biasanya para peziarah membaca paritta dan merenungkan kembali kisah yang telah terjadi di tempat itu lebih dari 2.500 tahun. yaitu Sujata mempersembahkan nasi susu kepada Petapa Gotama sebagai makanan terakhirnya sebelum mencapai Pencerahan.
c.       Taman Rusa Isipatana
Ada dua peristiwa penting di Taman Rusa Isipatana. Yang pertama adalah dibabarkannya ajaran Buddha untuk pertama kalinya kepada lima petapa, yaitu Dhammacakkappavatthana Sutta, yang berisi tentang empat Kebenaran Mulia, termasuk di dalamnya Jalan Mulia Berfaktor Delapan. Peristiwa penting kedua adalah terbentuknya Sangha Bhikkhu untuk pertama kalinya. Usai mendengarkan pembabaran Dharma dari Buddha, kelima petapa merasa sangat bahagia, kemudian memohon kepada Buddha untuk ditahbiskan menjadi Bhikkhu. Sejak saat itu lengkaplah Tiga Permata: Buddha, Dharma, dan Sangha.
Taman Rusa Isipatana sekarang dikenal dengan nama kota Sarnath. Dikota ini terdapat Stupa Dhamekh, yang dulunya bernama Stupa Dhmmacakka. Stupa ini dibangun oleh Raja Asoka, Selain itu, terdapat vihara yang bernama Mulagandhakuti. Sarnath juga dikenal dengan Pilar Asoka yang terbuat dari batu-pasir. Pilar ini bermahkotakan empat patung singa besar yang merupakan lambang dari Republik India. Bentuk roda seperti yang terdapat pada mahkota pilar ini juga menghiasi tiga warna bendera Negara India. Pada pilar tersebut terdapat pahatan dari titah raja yang berbunyi, “Tidak ada seorang pun yang boleh menyebabkan terpecah-belahnya kubu para Bhikkhu.” Kalimat ini mengandung peringatan terhadap para Bhikkhu dan Bhiksuni untuk menjaga keutuhan Sangha dan setia terhadap vinaya (peraturan disiplin Bhikkhu dan Bhiksuni).
d.      Kusinara sekarang dikenal dengan nama Kushinagar.
Kushinagar adalah tempat ziarah keempat untuk seluruh umat Buddha. Di tempat ini, dengan kasih sayangnya, Buddha mempersilakan Subhada untuk bertemu dengan-Nya. Subhada kemudian menjadi siswa terakhir yang ditahbiskan Buddha sebelum Buddha merealisasi Parinibbana.
Di Kusinara inilah, pada bulan purnama Waisak tahun 543 SM, Buddha wafat. Setelah wafat, Buddha tidak lagi terikat pada tubuh fisiknya. Saat itulah, sembari berbaring di antara dua pohon sala kembar, Buddha mencapai Nibbana Tanpa Sisa atau Parinibbana.
Di Kusinara dapat dijumpai sebuah cetiya yang sekarang tinggal tumpukan batu merah saja. Orang-orang menyebut cetiya ini dengan nama Cetiya Makutabhandana atau sekarang dikenal sebagai Stupa Rambhar. Di cetiya inilah jenazah Buddha dikremasi tujuh hari setelah Beliau wafat.
Di luar India terdapat juga tempat-tempat suci yang layak untuk kita ziarahi. Ada banyak makna Dharma yang dapat kita pelajari dari candi-candi Buddha. Meskipun candi-candi tersebut bukanlah tempat yang berhubungan langsung dengan kehidupan Buddha, namun di sana terdapat banyak simbol yang mengandung ajaran Buddha.
Sebagai mahasiswa Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Agama Buddha Maha Prajna, kami melakukan dharmayatra ke salah satu Candi Buddhis yang terdapat di Jawa Tengah yaitu Candi Plaosan. Kegiatan ini merupakan salah satu tugas kelompok mata kuliah Kebudayaan Buddhis.

B.     TUJUAN KEGIATAN
Kegiatan dharmayatra yang kami lakukan bertujuan untuk :
1.      Memenuhi salah satu tugas kelompok mata kuliah Kebudayaan Buddhis.
2.      Mempelajari lebih dalam tentang Candi Plaosan sebagai salah satu candi buddhis.
3.      Meningkatkan keyakinan (sadha) terhadap Buddha Dhamma.

C.    WAKTU PELAKSANAAN
Kegiatan ini kami lakukan sebanyak 2 kali, yaitu :
1.      Kegiatan I :
Hari/tanggal                      : Sabtu, 16 Juni 2012
Jam                                    : 09.00 s.d 14.00 WIB
2.      Kegiatan II :
Hari/tangga                       : Kamis, 19 Juli 2012
Jam                                    : 09.00 s.d 14.00 WIB

D.    PESERTA
Peserta dalam kegiatan dharmayata ini adalah mahasiswa Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Agama Buddha Maha Prajna kelompok Kabupaten Semarang yang terdiri dari :
1.      Jimo, S.Ag.
2.      Jiyem, S.Ag.
3.      Maryati, S.Ag.
4.      Supartini, S.Ag.
5.      Priyatiningsih, S.Ag.
6.      Sutrisno, S.Ag.



BAB II
PROFIL SEJARAH CANDI PLAOSAN


A.    LETAK DAN LOKASI
Secara administrasi, komplek Candi Plaosan terletak di Dukuh Plaosan Desa Bugisan Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten Propinsi Jawa Tengah. Sedangkan secara geografis terletak pada 7’44’32’12 Lintang Selatan dan 110’30’11 Bujur Timur dengan ketinggian kurang lebih 163,195 meter di atas permukaan laut.
Komplek Candi Plaosan dapat dicapai dengan menyusuri jalan raya Prambanan-Manisrenggo, yang ada di sebelah timur pagar kompleks Candi Prambanan, kea rah utara kurang lebih 1,5 km.

B.     SEJARAH CANDI PLAOSAN
Candi Plaosan yang merupakan candi Buddha ini oleh para ahli diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan dari Kerajaan Mataram Hindu, yaitu pada awal abad ke-9 M. Salah satu pakar yang mendukung pendapat itu adalah De Casparis yang berpegang pada isi Prasasti Cri Kahulunan (842 M). Dalam prasasti tersebut dinyatakan bahwa Candi Plaosan Lor dibangun oleh Ratu Sri Kahulunan, dengan dukungan suaminya. Menurut De Casparis, Sri Kahulunan adalah gelar Pramodhawardani, putri Raja Samarattungga dari Wangsa Syailendra. Sang Putri, yang memeluk agama Buddha, menikah dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya, yang memeluk agama Hindu.
Pendapat lain mengenai pembangunan Candi Plaosan ialah bahwa candi tersebut dibangun sebelum masa pemerintahan Rakai Pikatan. Menurut Anggraeni, yang dimaksud dengan Sri Kahulunan adalah ibu Rakai Garung yang memerintah Mataram sebelum Rakai Pikatan. Masa pemerintahan Rakai Pikatan terlalu singkat untuk dapat membangun candi sebesar Candi Plaosan. Rakai Pikatan membangun candi perwara setelah masa pembangunan candi utamanya.
Pada bulan Oktober 2003, di kompleks dekat Candi Perwara di kompleks Candi Plaosan Kidul ditemukan sebuah prasasti yang diperkirakan berasal dari abad ke-9 M. Prasasti yang terbuat dari lempengan emas berukuran 18,5 X 2,2 cm. tersebut berisi tulisan dalam bahasa Sansekerta yang ditulis menggunakan huruf Jawa Kuno. Isi prasasti masih belum diketahui, namun menurut Tjahjono Prasodjo, epigraf yang ditugasi membacanya, prasasti tersebut menguatkan dugaan bahwa Candi Plaosan dibangun pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.
1.      Plaosan Lor
Candi Plaosan Lor merupakan sebuah kompleks percandian yang luas. Di depan (barat) kompleks Plaosan Lor terdapat dua pasang arca Dwarapala yang saling berhadapan, sepasang terletak di pintu masuk utara dan sepasang di pintu masuk selatan. Masing-masing arca setinggi manusia ini berada dalam posisi duduk di atas kaki kanannya yang terlipat dengan kaki kiri ditekuk di depan tubuh. Tangan kanannya memegang gada, sedangkan tangan kiri tertumpang di atas lutut kiri.
Di pelataran utara terdapat teras batu berbentuk persegi yang dikelilingi oleh deretan umpak batu. Diduga teras batu tersebut merupakan tempat meletakkan sesajian. Konon di atas teras tersebut tadinya terdapat bangunan dari kayu, sedangkan di atas masing-masing umpak tadinya terdapat sebuah arca Dhyani Buddha.
Teras yang serupa namun berukuran lebih kecil terdapat juga di selatan kompleks Candi Plaosan Lor. Di pelataran utara kompleks Candi Plaosan juga terdapat 6 buah stupa besar.
Di pusat kompleks Candi Plaosan Lor terdapat dua bangunan bertingkat dua yang merupakan candi utama. Kedua bangunan tersebut menghadap ke barat dan masing-masing dikelilingi oleh pagar batu.
Dinding batu yang memagari masing-masing candi utama dikelilingi oleh candi perwara yang semula berjumlah 174, terdiri atas 58 candi kecil berdenah dasar persegi dan 116 bangunan berbentuk stupa. Tujuh candi berbaris di masing-masing sisi utara dan selatan setiap candi utama, 19 candi berbaris sebelah timur atau belakang kedua candi utama, sedangkan 17 candi lagi berbaris di depan kedua candi utama. Hampir semua candi perwara tersebut saat ini dalam keadaan hancur.
Di setiap sudut barisan candi perwara masih terdapat sebuah candi kecil lagi yang dikelilingi oleh dua barisan umpak yang juga diselingi dengan sebuah candi kecil lagi di setiap sudutnya.
Di sisi barat pagar batu yang mengelilingi masing-masing bangunan utama terdapat sebuah gerbang berupa gapura paduraksa, dengan atap yang dihiasi deretan mahkota kecil. Puncak atap gapura berbentuk persegi dengan mahkota kecil di atasnya.
Masing-masing bangunan candi utama berdiri di atas kaki setinggi sekitar 60 cm tanpa selasar yang mengelilingi tubuhnya. Tangga menuju pintu dilengkapi dengan pipi tangga yang memiliki hiasan kepala naga di pangkalnya. Bingkai pintu dihiasi pahatan bermotif bunga dan sulur-suluran. Di atas ambang pintu terdapat hiasan kepala Kala tanpa rahang bawah.
Sepanjang dinding luar tubuh kedua candi utama dihiasi oleh relief yang menggambarkan laki-laki dan perempuan yang sedang berdiri dalam ukuran yang mendekati ukuran manusia sesungguhnya. Relief pada dinding candi yang di selatan menggambarkan laki-laki, sedangkan pada candi yang di utara menggambarkan perempuan.
Bagian dalam kedua bangunan utama terbagi menjadi enam ruangan, tiga ruangan terletak di bawah, sedangkan tiga ruangan lainnya terletak di tingkat dua. Lantai papan yang membatasi kedua tingkat saat ini sudah tidak ada lagi, namun pada dinding masih terlihat alur bekas tempat memasang lantai.
Di ruang tengah terdapat 3 arca Buddha duduk berderet di atas padadmasana menghadap pintu, namun arca Buddha yang berada di tengah sudah raib. Pada dinding di kiri dan kanan ruangan terdapat relung yang tampaknya merupakan tempat meletakkan penerangan. Relung tersebut diapit oleh relief Kuwera dan Hariti.
Di kiri dan kanan, dekat pintu utama, terdapat pintu penghubung ke ruangan samping. Susunan di kedua ruangan bawah lainnya, baik di bangunan utara maupun di bangunan selatan, mirip dengan susunan di ruang tengah. Di sisi timur terdapat 3 arca Buddha duduk berderet di atas padadmasana menghadap ke barat. Arca Buddha yang berada di tengah juga sudah raib.
2.      Plaosan Kidul
Candi Plaosan Kidul terletak di selatan Candi Plaosan Lor, terpisah oleh jalan raya. Bila di kompleks Palosan Lor kedua candi utamanya masih berdiri dengan megah, di kompleks Candi Plaosan Kidul candi utamanya sudah tinggal reruntuhan. Yang masih berdiri hanyalah beberapa candi perwara.

C.     POSISI STRATEGIS CANDI PLAOSAN
Candi Plaosan adalah salah satu candi yang memilik posisi strategis, baik dilihat dari aspek pelestarian, keterkaitan historis maupun prospek pengembangan bisnisnya adalah Kompleks candi Plaosan.
Candi ini memiliki beberapa keunggulan diantaranya merupakan candi Budha yang cukup luas dan relatif dekat dengan kompleks candi Prambanan (10 menit), serta memiliki kondisi yang cukup bagus (pasca pugar). Selain itu candi Plaosan merupakan bangunan candi Budha sebagai sebuah simbol ibadah. Kompleks percandian ini terdiri dari dua bagian yaitu kompleks candi Plaosan Lor dan kompleks candi Plaosan Kidul, atraktifitas dari bangunan candi ini akan dapat menjadi daya tank utama sekaligus generator bagi pengembangan kawasan di sekitarnya

D.    POTENSI & NILAI KEUNIKAN CANDI PLAOSAN
Kawasan candi Plaosan mempunyai Unique Selling Point (USP) sebagai kompleks candi Budha yang bernilai tinggi yang berada di tengah areal persawahan dan pemukiman masyarakat, aksebilitas yang mudah serta sarana prasarana yang mendukung dan adanya dukungan dari lembagalembaga lain secara terpadu memungldnkan untuk dijadikan management mata rantai dengan Borobudur - Prambanan - dan Ratu Boko, selain itu candi Plaosan memilild dua keunikan :
1.      Nilai keunikan dari arsitektur bangunan candi, khususnya dua dari candi utama Plaosan Lor, yaitu bangunan induk di sebelah utara dan selatan, merupakan candi bertingkat. Konstruksi bangunan jenis ini merupakan bentuk teknologi percandian yang cukup jarang ditemui Keberadaan ornamen dan relief berupa prasasti-prasasti dengan huruf Budha (Sidham) memancarkan nilai artistik yang mengagumkan.
2.      Candi memiliki sistem Pantheon area Budha yang lengkap sehingga dapat mempresentasikan perkembangan Bodhisme di Jawa.

E.     KONDISI SOSIAL BUDAYA CANDI PLAOSAN
1.      Kesenian Tradisional
Kawasan candi Plaosan termasuk bagian dari Kecamatan Prambanan yang memiliki berbagai macam kesenian tradisional yang memiliki karakter dan jenis khas. Tingkat kegotong-royongan yang sangat tinggi dan suasana tradisional mencerminkan kehidupan di kawasan tersebut, oleh karena itu masyarakat masih memiliki rasa keterkaitan dan keinginan untuk melestarikan kesenian tradisional dan kegiatan ritual Kegiatan kesenian tradisional yang terdapat di kawasan candi Plaosan adalah sebagai berikut:
2.      Seni Musik
Jenis seni musik yang sering dimainkan oleh penduduk di Kecamatan Prambanan ini adalah : Karawitan, Keroncong, Laras Madya, Samroh, Kulintang, Waranggono, dan Macopat. Di Kawasan candi Plaosan cukup dikenal musik tradisional dari bambu ( Musik Bambu Pring Sedapur ) yang pernah ditampilkan di Jepang.
3.      Seni Tari
Sedangkan jenis tarian tradisional yang merupakan ciri khas dan sering dimainkan oleh penduduk setempat adalah jatilan, yaitu tarian keprajuritan yang menggambarkan perang saudara antara Demak dan Pengging
4.      Seni Teater
Sama hanya dengan Kecamatan-kecamatan yang lain yang ada di Kabupaten Klaten maka jenis seni teater yang sering menjadi daya tarik adalah Ketoprak, Wayang Orang, Srundul, Sruntul, dan juga Pedalangan Purwa.
5.      Dongeng Tradisional
Dongeng masyarakat sekitar candi Plaosan yang masih dipertahankan antara lain cents Bandung Bondowasa, cents rakyat terjadinya Desa Taji, terjadinya Desa Kongklangan, dan terjadinya Desa Pandansimping
6.      Upacara Adat
Kecamatan Prambanan selain memiliki potensi slam juga memiliki potensi budaya, hal ini terlihat dengan adanya upacara-upacara adat yaitu :
a.       Upacara Keagamaan Kawasan sekitar candi Plaosan masih melakukan kegiatan religius seperti pengajian, tahblan, wayangan dsb secara rutin.
b.      Sektor - sektor usaha yang terdapat di Desa Bugisan padakhususnya didominasi oleh sektor pertanian, hal ini terbukti dengan luas lahan persawahan di Desa ini sebesar 57, 37 % dari luas Desa , Selain itu juga didukung dengan mata pencaharian penduduk di desa ini dengan bertani 7 petani 26,11 % dan buruh tani 25,85 % dengan hash panen yang mencapai 584.000 ton pada bulan juni 2004. Umumnya penduduk desa selain sebagai petani mereka juga beternak, seperti ayam kampung dan ras, itik kambing, sapi serta kerbau, sedangkan untuk sektor industri, hanya terbatas pada industri kecil (sebanyak 6 buah) dan industri rumah tangga sejumlah 9 buah.

F.      PROFIL WISATA CANDI PLAOSAN
1.      Obyek dan Daya Tarik Wisata
Komplek candi Plaosan Lor selain berdekatan dengan candi Plaosan Kidul secara umum dapat dikatakan berada pada komplek situs Prambanan. Di sekitar Prambanan terdapat banyak candi, baik, yang besar maupun yang kecil, dengan latar belakang agama Hindhu maupun Budha. Komplek candi Plaosan Lor dan candi Plaosan Kidul mempunyai latar belakang agama Budha, candi Plaosan Lor merupakan sebuah kompleks percandian yang terdiri dari dua bangunan induk yang dikehlingi oleh 6 patok, 58 candi perwara dan 116 Stupa perwara serta ditambah 1 bangunan Mendapa. Diluar pagar halaman II kompleks candi Plaosan Lor terdapat 4 arcs Dwarapala atau arca penjaga pintu masuk candi, bangunan-bangunan yang mengelilingi candi induk terbagi dalam 3 deret : Deret ke-1, adalah candi perwara berjumlah 60 candi; deret ke-2, berjumlah 58 yang terdiri 54 stupa perwara dan 4 candi perwara pada tiap sudutnya; deret ke-3 berjumlah 66 yang terdiri dari 62 dtupa perwara dan 4 candi perwara yang terletak pada tiap sudutnya.
Pada candi perwara dan stupa perwara terdapat prasasti pendek yang memuat nama tokoh.
2.      Aktifitas Wisata
Aktifitas yang dapat dilakukan di kawasan obyek wisata candi Plaosan pada saat ini masih terbatas pada aktifitas seperti :
a.       Ethnic Tourism
Seperti mengobserfasi ekspresi kebudayaan dan gaya hidup masyarakat, berkunjung ke rumah penduduk setempat, melihat kesenian tradisional setempat, upacara maupun ritual keagamaan.
b.      Environmental Tourism
Menekankan pada atraksi yang disiapkan oleh alam, Getting Back To Nature termasuk diantaranya adalah fotografi, tracking dan sebagainya.
c.       Historical Tourism
Yaitu aktifitas wisata yang mengunjungi tempat-tempat yang memiliki nilai keunikan sejarah tersendiri. Dalam hal ini candi Plaosan termasuk didalamnya dengan mengingat potensi dan nilai sejarah yang dimiliki oleh candi Plaosan.
d.      Recreational Tourism
Merupakan aktifitas wisata yang benar-benar bertujuan untuk bersantai (rekreasi) seperti Sight Seeing (melihat pemandangan) olah raga (cycling) dan lain sebagainya.
3.      Fasilitas Pengunjung
Sebagai salah satu obyek wisata budaya dan sejarah terdapat di Kabupaten Klaten, candi Plaosan memiliki beberapa fasilitas wisata antara lain :
a.       Pintu Gerbang
Kawaan candi Plaosan belum memiliki pintu gerbang yang siqnifikan tetapi sebelum pengunjung memasuki kawasan candi, mereka akan melewati pintu gerbang kawasan candi Plaosan.
b.      Kantor Pengelola
Lokasi Kantor Pengelola berada dalam kawasan Candi Plaosan dengan bentuk bangunan yang masih semi permanen.
c.       Papan Informasi
Letak dan papan informasi ini bersebelahan dengan loket pembayaran, papan ini memberikan gambaran tentang pemugaran candi Plaosan.
d.      Tempat Parkir
Sampai saat ini tempat parkir yang tersedia di kawasan candi Plaosan belum dipisahkan antara tempat parkir untuk kendaraan roda 4 dan roda 2.
e.       Tempat sampah
Di dalam kawasan candi Plaosan sudah tersedia tempat sampah yang berada di setiap sudut yang terletak di dalam kawasan candi Plaosan ini Adapun untuk pembuangan akhir belum terdapat fasilitas yang cukup representatif.
4.      Aksebilitas
Aksebilitas di kawasan candi Plaosan dapat dikatakan baik, dengan jalan yang menuju lokasi sudah diaspal dengan lebar 4 m sehingga dapat dilewati kendaraan roda 4, selain itu jalan menuju kawasan candi Plaosan memilild akses langsung dengan jalan arteri Jogjakarta dan Surakarta. Sampai saat ini untuk mencapai lokasi, pengunjung bisa menggunakan Bus pedesaan, kendaraan pribadi, ojek dan becak.


BAB III
HUBUNGAN ANTARA CANDI PLAOSAN
DAN CANDI PRAMBANAN


A.    HUBUNGAN ANTARA AGAMA HINDU DAN BUDDHA
Berdasarkan data-data prasasti di atas, baik yang berlatar belakang agama Hindhu maupun Budha dapat diketahui bahwa keduanya dapat hidup saling berdampingan, bahkan dalam sebuah keluarga antara suami dan istri. Dengan demikian hubungan baik antara candi Roro Jonggrang Prambanan dengan Candi Plaosan Lor secara historis tidak diragukan lagi. Meskipun masih perlu juga diketahui tentang perkembangan agama Hindhu dan Budha di Jawa pada masa itu sebagai penguat hubungan antara keduanya.
Agama Hindhu pada awal perkembangannya tampak dari penyebutan nama tempat yang dimuat di dalam prasasti Canggal yang dikeluarkan oleh Sanjaya, yaitu pendirian sebuah lingga di bukit Ksitirangga yang terletak di Kunjam - kunja - deca Informasi ini jelas menunjukkan pemujaan terhadap Dewa-dewa dalam agama Hindhu. Selanjutnya seperti telah disebut dimuka bahwa terjadi perpindahan agama dari. tokoh yang bernama Sangkara, karena terjadi peristiwa yang menimpa keluarganya, sejak saat itulah mulai berkembang agama Budha Mahayana. Perkembangan ini banyak didukung, baik dengan banyaknya prasasti yang menyebut persembahan terhadap agama Budha maupun tinggalan arkeologi yang berupa candi yang berlatar belakang agama Budha.
B.     CANDI PLAOSAN MERUPAKAN CANDI BUDDHA TANTRAYANA
Pada dasarnya semua candi Budha dibentangkan pada candi Budha yang biasanya memunculkan tiga perwujudan Budha yaitu : Diani Budha, Diani Bodhisatwa dan Manusi Bodbisatwa walaupun kesemuanya ada 15 perwujudan Budha, adapun yang terlengkap ada di Borobudur, namun yang dipakai adalah Diani Budbanya (Amitaba), Diani Bodhisatwa (Awalukiswara yang melambangkan cinta kasih dan kasih sayang), dan Manusi Bodhi Satwa (Sakyamun).
Ketiga perwujudan tersebut merupakan satu patner dalam menjalankan tugas. Gambaran candi Plaosan merupakan perwujudan satu Triatna yaitu Budha yang berarti melihat kebenaran, Dharma yang berarti jalan untuk mencapai kebenaran, dan Sangha yang berarti pasamuan suci, tempat pembelajaran guru dan murid yang diwakili para rahib. Ketiganya merupakan kund untuk mempertemukan yang maha kekal
Lambang-lambang patung yang terdapat di candi Plaosan bukanlah lambang Budha sebagai diri, akan tetapi Budha sebagai lambang kekekalan - kesempurnaan. Dimana lambang tersebut diapait oleh dua Bodhisatwa, yang merupakan lambang yang mau mencapai kesempurnaan.
Agama Budha Tentrayana sendiri penuh dengan simbul yang memilild makna yang panjang. Hal ini diperlihatkan oleh arca Bodhisatwa di candi Plaosan yang melambangkan masing-masing wujud dan sifat Budha serta jalan untuk perenungan` menuju sifat baik Simbol-simbol tersebut bersifat mistis, adapun yang terjadi sekarang ini adalah bukan ibadah yang diperhatikan oleh orang-orang, melainkan budayanya yang simbol. Hal ini tentunya menyingkirkan unsur ibadah yang seharusnya menjadi tujuan utama seseorang.
Pada masa abad ke 7 dan ke 8 (masa berdirinya candi Plaosan) merupakan masa pematangan konsep Tentrayana yang kemudian memunculkan konsep baru yaitu konsep Adibudha yang berarti Budha kesempurnaan, di Indonesia sendiri hal tersebut diwujudkan dalam Tuhan Yang Maha Esa. Tentra yang sama juga ada di Tibet, yang berasal dari Indonesia / Jawa, yang kemudian berbaur dengan Tentris dan kematraan lokal, hal ini juga terjadi di Indonesia dimana proses perubahan terjadi dari Budha murni Terawada ke Mahayana dan berlanjut menjadi Tentrayana.
Untuk memahami perlambangan di Tentrayana, seseorang harus memahami terlebih dahulu dasar persimbolan Mahayana yang orang harus hafal dasar-dasar nilai ajaran Budha di Terawada. Hirarki pemahaman / pencapaian ini harus dipahami dulu lebih awal sehingga tidak ada kesalahan dalam penafsiran pada tingkat yang lebih tinggi. Pengajaran tingkat yang tinggi ini juga disesuaikan dengan tingkat kemampuan seorang Bhiksu, dimana hanya Bhiksu-bhiksu tertentu, dinilai dari beberapa aspek, yang diajarkan Tentrayana melalui kelas-kelas rahasia secara hirarkis, yang pertama ada adalah Budha Terawada (murni), dimana tidak ada upacaraupacara ritual didalamnya, kemudian lahir Mahayana dengan upacaraupacara besar sekaligus sebagai penyebaran pemahaman ajaran Budha dan simbol-simbolnya pada masyarakat masa lalu.
Terkait dengan hal tersebut, candi Borobudur yang juga merupakan candi Budha, memilild nilai potensial sebagai tempat wisata ritual, sekaligus untuk menjaga dan memelihara kesrakalan yang ada di sang Namun yang terjadi sekarang ini adalah pengunjung yang ingin bersembahyang di Borobudur akan berfikir dua kali untuk melakukannya, karena secara psikologis, mereka tidak nyaman dengan melihat pengunjung lain dengan seenaknya duduk dan naik patung sembarangan, sehingga mengakibatkan Borobudur semakin kotor dan lain-lain.
Dilihat dari beberapa aspek, candi Plaosan sendiri memilild potensi besar untuk dikembangkan dari segi bentuknya, Plaosan memilild tiga bilik yang melambangkan Tri Ratna, yaitu Budha masa lalu. Budha sekarang dan Budha yangakan datang, sedangkan candi Sewu yang juga merupakan candi Hindhu lebih merupakan biara ( tempat belajar Bhiksu ) dilihat dari pola mandalanya yang berbeda. Hal ini bisa dilihat dari adanya candi Perwara sebagai tempat meditasi, sementara tanah lapang sebagai tempat dharma bersama.
Dilihat dari potongan pola mandala, candi Plaosan memilild potongan pola mandala yang lengkap, dari tempat yang rendah (mikrokosmos / membumi) gradual hingga tempat yang lebih tinggi dan paling tinggi, hal ini ditandai dengan puncak stupa sebagai perwujudan penyatuan dengan nirwana / kesempurnaan / mikrokosmos. Plaosan sebagai tempat suci umat Budha, tentunya memiliki pagarpagar sebagai pengaman, adanya pant dan pagar di candi plaosan, dinilai sebagai pengaman dari binatang buas dan liar, sehingga mereka tidak bisa berenang untuk mencapai permukaan candi Plaosan, walaupun dalam upacara ada pola pembersihan dengan air, namun parit yang ada di candi plaosan dinilai hanya sebagai pengaman.
Dari segi ritual, untuk Tentrayana seperti yang dibangun di candi Plaosan, pola-pola ritualnya menggunakan mantra. Mantra merupakan ringkasan dari ajaran Budha yang terdiri dari Terawada, Mahayana dan Tentrayana, Terawada merupakan ajaran Budha paling awal yang kemudian ditambahai komentar oleh Mahayana, dan diringkas kembali oleh Tentrayana dari kitab (ajaran awal dan keterangan) menjadi hanya beberapa kahmat saja, namun pengucapannya juga dimaknai seperti memahami seluruh isi satu kitab. Dalam sebuah upacara pembacaan mantra diulangulang untuk mengikis hal-hal yang buruk dan agar selalu berpikir hal-hal yang baik bila pikiran baik maka perbuaaan dan perbuatan akan berlaku serupa. Tujuan akhir dari itu semua adalah untuk menjaga agar pikiran manusia bisa menjadi baik.
Kata Plaosan, mungkin berasal dari kata pe-laos-an yang kemungkinan ada kaitannya dengan negara Laos. Beberapa patung yang terdapat di candi Plaosan memilild arti tertentu, seperti patung Budha di tengah Dhiani Budha (Vahirocana) dan Bodhisatwa, yang berwarna merah adalah awalukiswara, lambang kasih sayang, yang berwarna kuning disebelah kiri adalah Vajravani merupakan lambang kebijaksanaan. Sebagai tempat untuk duduk sembanyang, candi Plaosan tentunya akan sangat nyaman bila ditanami oleh pepohonan yang rindang sebagai peneduh.
Dalam hal ini vegetasi yang mungkin cocok untuk candi Plaosan adalah pohon teratai, yang bisa ditanam di parit dan pohon Bodhi, selain untuk peneduh terdapat pula upacara ritual penghormatan pohon Bodhi yang merupakan benih-benih dari kesucian .

BAB IV
PENUTUP


A.    SIMPULAN
Melalui kegiatan dharmayatra ini, kami sebagai mahasiswa Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Maha Prajna medapatkan manfaat :
1.      Terpenuhinya salah satu tugas kelompok mata kuliah Kebudayaan Buddhis.
2.      Dapat mempelajari lebih dalam tentang Candi Plaosan sebagai salah satu candi buddhis di Jawa Tengah.
3.      Meningkatnya keyakinan (sadha) terhadap Buddha Dhamma.

B.     SARAN
Mahasiswa program Pasca Sarja adalah calon ilmuwan-ilmuwan dalam bidang agama Buddha. Di masyarakat mereka akan menjadi tolok ukur dan sumber informasi tentang agama Buddha. Maka perlu kiranya lebih banyak membekali dirinya dengan ilmu-ilmu terapan yang memang sangat dibutuhkan di masyarakat.
Mata kuliah kebudayaan buddhis merupakan mata kuliah aplikatif. Tugas kelompok yang diberikan kepada mahasiswa untuk melakukan dharmayatra merupakan salah satu bentuk aplikasi mata kuliah ini. Pada pertemuan-pertemuan yang akan datang hendaknya lebih banyak dibahas materi-meteri aplikatif dan bentuk-bentuk peninggalan kebudayaan buddhis.

1 komentar:

  1. candinya keren ,cocok buat kaum instragramable maupun untuk foto prewedd Rental mobil jogja

    BalasHapus

Entri Populer